Articles by "ekonomi"
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Portal Berita Terkini
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta agar pemerintah bertindak tegas terhadap praktik kartelisasi di sektor pangan, terutama komoditas pokok seperti cabai dan daging.
Hal ini ditegaskan YLKI karena kerapkali harga bahan-bahan pangan pokok melonjak tajam dan selalu berulang setiap tahunnya.
Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi mengungkapkan, persoalan harga pangan terletak pada tata niaganya. "Ada dugaan kuat terjadi kartelisasi bahan pangan, termasuk di cabai, daging. KPPU dan Kementerian Perdagangan harusnya bisa membongkar tata niaga yang tidak beres ini," ujar Tulus dalam acara YLKI "Menyoal Tingkat Keamanan pada Buah" di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta, Senin (5/12/2016).
Tulus mengatakan, pemerintah selalu mengklaim pasokan cabai cukup memenuhi kebutuhan. Namun, anehnya harga cabai kerap bergejolak.
Menurutnya, alasan cuaca juga tidak cukup untuk menjawab mengapa harga cabai meroket.  "Kalau cuaca kan baru-baru ini. Kalau harga naik kan sudah lama. Jadi, dugaan kuat kita ada kartel di tata niaganya. Ada kepentingan ekonomi politik di dalam kartel itu yang melibatkan pemain besar. Pemerintah takut membongkar itu," ujarnya.
Tulus mendesak pemerintah bersama lembaga terkait harus berani membongkar praktik kartel.
Pasal 11 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat menyatakan, pelaku usaha dilarang membuat perjanjian dengan pelaku usaha saingannya, yang bermaksud mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.
Sebelumnya, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan, pemberantasan kartel atau praktik persaingan usaha tidak sehat di Indonesia masih membutuhkan upaya yang keras.
Menurut Syarkawi, KPPU sebagai lembaga yang bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap persaingan usaha memerlukan kewenangan yang lebih kuat dari yang dimiliki sekarang.
Dengan itu, saat ini pihaknya bersama DPR tengah membahas Rancangan Undang-Undang (RUU) Persaingan Usaha yang akan merevisi  UU Nomor 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Portal Berita Terkini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 22,35 poin atau naik 0,42 persen ke level 5.268,30 pada penutupan perdagangan saham Senin (5/12/2016) pukul 16.00 WIB. 

Kenaikan IHSG ditopang oleh penguatan delapan indeks sektoral yang dimpimpin oleh sektor pertambangan yang naik 2,29 persen. Sementara dua sektor yang ditutup melemah yakni keuangan dan properti. 

Dari data RTI, sebanyak 165 saham ditutup naik. Sebanyak 141 saham ditutup turun dan 106 saham ditutup tetap. 

Net foreign sell di semua papan perdagangan mencapai Rp 775,2 miliar. Sementara net foreign sell di pasar reguler mencapai Rp 610,1 miliar. 

Dengan demikian, aksi lepas portofolio oleh investor asing terus berlanjuit, seiring reli penguatan IHSG selama lima hari. 

Dari pasar spot Bloomberg, rupiah terpantau penguat 72 poin ke level 13.440 per dollar AS. Sebelumnya, di Jumat rupiah ditutup di level 13.512.
Portal Berita Terkini

PT Metropolitan Karyadeka Development (MKD) Indonesia dan penyedia solusi ruang usaha Ascendas Group direncanakan memulai tahap konstruksi proyek mixed-use Metland Cyber City senilai Rp 2,5 triliun pada kuartal IV 2017.
Direktur PT Metropolitan Land Tbk (MTLA), induk MKD, Santoso mengatakan, luas tanah untuk fase I proyek ini mencapai 1,47 hektare (Ha) dengan luas bangunan (semi gross) mencapai 12,2 Ha.
"Rencananya konstruksi dimulai pada kuartal IV 2017," kata Santoso di Jakarta, Senin (5/12/2016).
Sementara itu, Direktur Keuangan MTLA Olivia Sarodjo mengatakan, untuk tahap awal MKD dan Ascendas masing-masing akan mengeluarkan investasi sekitar Rp 350 miliar. Porsi antara MKD dan Ascendas di proyek joint venture ini sama besar, atau 50:50.
Olivia menuturkan, jika ditambah dengan kebutuhan ekspansi untuk proyek lain sebesar Rp 540 miliar, maka belanja modal MTLA tahun depan mencapai Rp 890 miliar. Sebanyak Rp 160 miliar diantaranya diperuntukkan membeli tanah (land bank).
"Selain Cyber City, proyek-proyek baru yang akan konstruksi tahun depan ada apartemen Kaliana, Kondotel Lampung, Metropolitan Mall Cibitung, dan apartemen Tambun," kata Direktur MTLA, Nitik Hening.
Portal Berita Terkini
Persoalan harga buah lokal masih menjadi tantangan berat untuk pemerintah. Selain harga yang mahal, buah lokal juga mesti bersaing dengan buah impor dari negara lain.
Selain persoalan harga, persoalan daya tarik, hingga kualitas menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli buah.
Kepala Bidang Keamanan Hayati Nabati, Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) Islana Ervandiari mengatakan, persoalan mahalnya harga buah karena panjangnya rantai distribusi penjualan.
"Kami berusaha memutus rantai distribusi. Memang betul karena distribusi terlalu panjang, contohnya jeruk dari Brastagi. Kalau nggak salah Rp 5.000 sampai Rp 10 ribu per kg di petaninya. Sampai Jakarta bisa Rp 40 ribu rantai pasok terlalu panjang," ujarnya dalam acara YLKI 'Menyoal Keamanan pada Buah Segar' di Cikini Jakarta, Senin (5/12/2016).
Dia menjelaskan, bukan hanya persoalan panjangnya distribusi yang jadi permasalahan. Tetapi juga persoalan pengembangan buah khas daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.
"Kedua jeruk Brastagi hanya bisa ditanam di Brastagi. Tidak bisa tanam di Jakarta. Jadi orang Jakarta yang mau makan jeruk Brastagi harus didatangkan dari Brastagi," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi berharap agar akses masyarakat terhadap buah perlu ditingkatkan, agar konsumsinya pun meningkat.
"Panjangnya rantai distribusi, alhasil harga pun berpengaruh menjadi sangat mahal. Konsumen buah pun bisa jadi enggan beli, dan dapat beralih ke konsumsi yang lain, lebih murah tapi tidak sehat, seperti rokok," ucapnya.
Pihaknya juga mendorong agar pemerintah bersungguh-sungguh untuk mangkas rantai distribusi.
"Rekomendasi YLKI adalah memutus rantai distribusi yang panjang. Karena dari hulu sampai diterima konsumen ada sembilan rantai distribusi yang jadi sangat mahal dan kualitas menurun," paparnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada 2013, pengeluaran rumah tangga dalam negeri untuk konsumsi buah segar hanya sebesar 2,33 persen dari total pengeluaran untuk makanan sebesar 13,11 persen.
Sementara dari aspek hulunya, YLKI menilai saat ini pemerintah belum berpihak pada petani buah.
"Pemerintah belum beri keberpihakan kepada petani buah, di hulunya. Di negara asing, pemerintahannya memberikan bantuan dalam proses produksi," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu memberikan insentif, mulai dari mudahnya memperoleh pupuk dan benih buah kualitas unggul.
Dibarengi dengan perbaikan rantai distribusi agar buah lokal mampu menjadi tuan rumah di negara sendiri.